Selamat Datang di Kabupaten Grobogan, Kami Menantikan Partisipasi Saudara Guna Mengembangkan Potensi Yang Ada. Maaf lama tidak aktif...masih bertahan di grobogantoday.blogspot.com

Selasa, 18 Mei 2010

Harga Bawang Merah Turun

GROBOGAN- Petani bawang merah di wilayah Kecamatan Karangrayung mengeluhkan rendahnya harga di pasaran. Mereka merasa bimbang apakah akan menahan hasil panen dan menunggu harga kembali normal atau terpaksa menjual meski keuntungan sangat minim.
’’Biasanya, ketika panen harga bawang merah di kisaran Rp 6.000 - 7.000/kg. Sekarang harganya Rp 4.700 - Rp 5.000. Entah kenapa saat ini sangat rendah sekali harganya. Kami akui banyak bawang merah yang kualitasnya menurun,’’ kata Sarowi petani bawang merah asal Karangrayung, kemarin.


Tingginya curah hujan yang berimbas pada munculnya hama seperti ulat, klaper dan jamur menjadi momok tersendiri bagi petani bawang merah di wilayah tersebut. Dengan kualitas penen yang rendah serta masa panen bersamaan dengan wilayah lain seperti Demak, dan Kudus, tak ayal menyebabkan harga menurun drastis.
’’Daun tanaman mengering dan ukuran bawang merah tidak maksimal. Kami kewalahan dengan serangan hama. Hanya sedikit petani yang lolos dari hama tersebut, itu pun membutuhkan kerja keras, dana serta ketelatenan,’’ tambahnya.
Sementara itu, petani bawang merah asal Desa Pangkalan Kecamatan Karangrayung, Ali Faturohman (32) bisa sedikit bernapas lega dibanding Sarowi. Cara pemeliharaan tanaman yang dilakukannya terbukti berhasil meloloskan dari serangan jamur dan klaper.
’’Jamur cepat menyerang dikala curah hujan tinggi. Saya sengaja menggaji dua orang selama dua bulan untuk mengawasi 0,4 hektare lahan. Mereka langsung menyemprot tanaman dengan obat jamur ketika habis hujan seharian. Jarak tanaman juga saya perhatikan betul,’’ ujar Ali.
Satu Bulan
Dengan metodenya tersebut, dia mampu panen sekitar empat ton bawang merah jenis lokal dengan kualitas normal. Biaya produksi memang sedikit membengkak sekitar Rp 400 - 600 ribu dibanding petani lainnya. Namun ketika dikalkulasi, bapak satu anak ini mampu meraih hasil tiga kali lipat dari petani lain.
’’Biaya produksi untuk 0,4 hektare lahan saya sebesar Rp 11,5 juta. Kalau saya jual saat ini saya sudah bisa mendapat uang sekitar Rp 22 - 23 juta. Tetapi akan saya tahan dulu sementara, sambil menunggu harga membaik,’’ ungkapnya.
Menurut prediksinya, harga akan membaik sekitar satu bulan kedepan. Harga dimasa itu kemungkinan berkisar Rp 7.000 - 9.000/kg. Turunnya harga, katanya, disebabkan jumlah produksi bawang merah berkualitas rendah di pasaran membludak. Hal itu mempengaruhi harga secara umum. Sehingga dengan kualitas bawang merah miliknya yang lebih baik, sangat disayangkan bila dilepas berbarengan dengan bawang merah kualitas rendah. (K11-16) Suara Merdeka, 17 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Populer Minggu Ini