Selamat Datang di Kabupaten Grobogan, Kami Menantikan Partisipasi Saudara Guna Mengembangkan Potensi Yang Ada. Maaf lama tidak aktif...masih bertahan di grobogantoday.blogspot.com

Jumat, 10 Mei 2013

Dampak Kerusuhan Suporter PSIS di Godong

Rugi RP 700 Juta
Bupati Grobogan Surati Wali Kota
GROBOGAN- Keberingasan amuk suporter PSIS tergambar di Godong, Grobogan. Tidak saja rugi materiil saja, warga pun menderita inmeteriil seperti rasa ketakutan dan rasa traumatik bila mengingat batu beterbangan, teriakan massa pada Minggu (5/5) petang sampai Senin (6/5) siang.

Warga sangat terpukul atas peristiwa itu. Bahkan, sampai kemarin pun ada sejumlah warga yang takut dan trauma bila mengingat peristiwa itu.
‘’Situasinya menakutkan. Batu dan botol dilempar ke dalam rumah. Tiba-tiba banyak orang masuk ke rumah mengambil barang-barang, termasuk isi lemari diacak-acak,’’ tutur Sri Mulyani (45), warga RT 05 RW 03, Desa Godong, Kecamatan Godong, kemarin.
Melihat amuk massa yang begitu beringas, ia terpaksa lari mengungsi. Dia tak pedulikan lagi rumahnya. Pikirannya hanyalah menyelamatkan diri. Barulah pada Senin (6/5) sore, Sri Mulyani baru berani pulang dari rumah saudaranya.
Betapa terkejutnya dia, melihat kondisi rumahnya yang rusak dijarah massa. Kaca depan rumahnya pecah, perabotan beserta isinya berantakan. Barang dagangannya banyak yang hilang.
‘’Kalau dihitung-hitung kerugianbnya lebih dari Rp 2 juta,’’ ucapnya. Ia pun trauma jika nanti ada rombongan suporter sepakbola datang lagi.
Sri Mulyani merupakan satu dari sekian puluh warga Kecamatan Godong yang mengalami hal serupa. Pihak Pemkab Grobogan beserta Muspika Godong turun tangan mendata nilai kerugian dari peristiwa bentrokan antara suporter dengan warga.
Berdasarkan hasil pendataan, jumlah warga yang mengalami kerugian materiil ada 114 orang. Rinciannya di Desa Godong ada 73 orang, Bugel (36 orang), Bringin (1 orang), Klampok (33 orang) dan Jatilor (1 orang).
Kerugian tersebut antara lain karena rumah rusak, barang dagangan dijarah, perabot rumah tangga hilang, kendaraan rusak dan hilang. Secara nominal, Muspika menghitung kerugian yang diderita warga mencapai Rp 700 juta. Rincinannya, warga di Desa Jatilor menderita kerugian Rp 500 Ribu, Bringin Rp 2,5 juta, Klampok Rp 172 juta, Godong Rp 400 juta, Bugel Rp 70 juta.
‘’Data ini sifatnya masih sementara yang kami kumpulkan berdasarkan hasil laporan warga dan kades. Jumlahnya bisa saja bertambah. Kami masih menunggu laporan warga dan tetap akan melakukan cek realita lapangan,’’√ę kata Sekretaris Kecamatan Godong, Joko Supriyanto didampingi Danramil Godong Kapten Inf Faheri dan Kapolsek AKP Sunaryo, usai mendata jumlah korban dan kerugian yang disebabkan kerusuhan tersebut.
Selanjutnya, lanjut Joko, data jumlah korban dan kerugian akan disampaikan ke Bupati Grobogan H Bambang Pudjiono SH melalui Camat. Menurut rencana data tersebut akan disampaikan kepada Plt Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Berdasarkan kesepakatan awal, koordinator suporter PSIS bertanggungjawab dan akan mengganti kerugian akibat kerusuhan tersebut.
Terpisah, Kapolres Grobogan AKBP Langgeng Purnomo SIK MH kepada Suara Merdeka mengatakan, terkait bentrokan yang terjadi, warga hanya membela diri. Bahkan Kapolres mendapati banyak warga yang menyelamatkan suporter yang mayoritas warga Semarang itu dari lemparan batu.
‘’√ęSuporter PSIS ditunggangi pelaku kriminal. Terkait sikap warga yang ikut melempari batu, sifatnya hanya membela diri. Bahkan hari ini (kemarin), warga juga menyerahkan sepeda motor yang ditinggalkan para suporter di Godong,’’ kata Kapolres.
Pemkot Semarang telah memanggil manajemen PSIS, kepolisian dan pengurus dua kelompok suporter untuk mencari langkah penyelesaian agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Tercatat, pada musim ini bentrokan di Godong merupakan kejadian kali kedua suporter Semarang berulah. Sebelumnya saat melawan Persip Pekalongan, suporter bentrok pada 1 Maret lalu.
‘’Semalam (kemarin malam-red) telah bertemu dengan pihak pemkot. Dihadiri SKPD, Polrestabes, Kodim 0733/BS, Sekda serta pengurus suporter.
Namun belum ada solusi agar keributan ini tidak kembali terjadi. Rencananya, besok (hari ini-red) kami akan berkumpul lagi, disertai Plt Wali Kota,’’ tutur General Manager PSIS. Ferdinand Hindiarto.
Dia menambahkan, manajemen tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya secara struktural tidak berkaitan langsung dengan suporter. Namun selama ini manajemen terus berkoordinasi dengan para pengurusnya agar dapat mendukung secara positif dan tidak sebaliknya.
Manajemen juga tidak dapat mengontrol langsung bila suporter ikut menyaksikan laga tandang. Panitia pertandingan tuan rumah, dan aparat keamanan setempat, serta koordinator keberangkatan yang memiliki andil besar mengawal suasana agar tetap kondusif.
‘’Kami butuh suporter yang dapat mendukung PSIS. Manajemen lebih fokus pada tim agar dapat eksis mengikuti kompetisi,’’ tutur pria yang juga Wakil Rektor III Unika Soegijapranata itu.
‘’Terkait kerusuhan suporter ini, tidak hanya dari manajemen yang bergerak. Pemerintah Kota Semarang, kepolisian dan pihak-pihak terkait harus ikut membantu. Terlebih kesadaran suporter sendiri. Masalah ini sudah menyangkut nama Semarang di mata nasional,’’ tambahnya. 
Tolak Aksi Balasan
Ketua Umum Snex, Rendra Kusworo menuturkan, upaya-upaya perdamaian antara suporter Kota Lunpia dengan warga Godong Grobogan tetap akan dilakukan. Namun saat ini, pihaknya masih fokus mendata anggotanya. Mulai dari yang luka-luka, hingga kehilangan harta benda.
Ketua Panser Biru, Mario Baskoro menegaskan pihaknya akan mengevaluasi internal. Di antaranya sosialisasi dan koordinasi keberangkatan saat mendukung PSIS away. Kepada semua pihak, dia memohon maaf atas kericuhan yang terjadi di Godong Grobogan.
Pascabentrok, kedua kelompok itu menegaskan, pengurus tidak pernah mengintruksikan untuk aksi balasan. Apalagi sweeping terhadap warga Grobogan yang ada di Kota ATLAS. ‘’Misalkan ada, merupakan tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bila kedapatan, aparat kepolisian dapat segera mengamankan,’’ tegas Mario.
Ganti Rugi
Imbauan untuk menjaga kedamaian juga datang dari Plt Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto. Dia meminta kepada seluruh warga untuk tidak terpancing akan isu-isu dan provokasi paska-bentrok suporter dan warga Godong, Grobogan, belum lama ini.
“Kami meminta warga untuk tetap tenang, jangan percaya isu yang bisa memperkeruh situasi. Tentang banyaknya isu yang beredar melalui pesan singkat ataupun blackberry messenger, kami tegaskan itu tidak benar. Tidak ada aksi sweeping ataupun aksi balasan lain,” katanya.
Menurut Adi, insiden bentrok itu menjadi perhatian pemerintah kota secara khusus. Terkait dugaan adanya aksi penjarahan, Pemerintah Kota Semarang tak dapat menganti kerugian yang dialami warga Godong. Pertimbangannya bahwa dugaan adanya penjarahan dilakukan oleh individu dan menjadi tanggung jawab sendiri-sendiri.  “Saat ini Pemerintah Kota Semarang sedang mempertimbangkan keberadaan sejumlah organisasi suporter. Apalagi dengan adanya insiden kerusuhan seperti ini,” paparnya.
Kepala Kesbangpol Kota Semarang Kuncoro Himawan mengaku, tidak mengeluarkan bantuan untuk organisasi suporter, baik Panser Biru dan Snex. Kedua organisasi itu tak terdaftar di instansinya. ‘’Alamat kantornya saja, saya tidak tahu. Segala aktivitas yang merugikan masyarakat umum menjadi tangung jawab organisasi itu,’’ tandas dia.
Psikolog Unika Soegijapranata, Dwi Yanni L, mengemukakan semua jenis cabang olahraga termasuk sepakbola harus  menjadi ajang memupuk rasa persahabatan. Sebab dalam olahraga tersemat jiwa sportivitas, disiplin dan penuh rasa kejujuran. Tak seyogyannya ajang pencari persahabatan itu ternoda sikap tak jujur, beringas, dan penuh kekerasan.
‘’Ini yang seharusnya menjadi perenungan semua pihak. Masyarakat butuh disadarkan bahwa olahraga adalah media perekat untuk semuanya. Saya juga  pernah mendengar istilah bahwa sepakbola adalah bahasa pergaulan internasional,’’ tutur perempuan kelahiran Yogyakarta tersebut.
Dia menambahkan untuk kasus bentrokan kemarin, bisa saja ini bagian dari letupan kemarahan pihak-pihak yang merasa dirugikan atas kondisi sosial saat ini. Kondisi sosial masyarakat yang bebannya demikian besar sedikit banyak akan menumbuhkan rasa frustasi.
Pada saatnya ketika rasa frustasi mendapat penyaluran maka ledakanya membahayakan yakni berupa sikap beringas seseorang. Ketika sikap itu muncul dalam bentuk kelompok kelompok tentunya sangat membahayakan ujung-ujungnya adalah pertikaian.
Karena itu, ungkap dia, supaya hal serupa tidak terus berulang harus ada kesadaran bagi semua pihak.  Seharusnya rasa frustasi bisa dibuang hilang ketika seseorang masuk dalam lingkaran dunia olahraga. Caranya, yakni menjunjung tinggi  jiwa sportivitas, disiplin,  dan penuh rasa kejujuran. (K11,K18, H71, H41, H35-90) SM, Berita Utama, 08 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita Populer Minggu Ini